Jumat, 08 Juni 2012
Sebagian Sejarah Dari Kolonel Purn.Martin Liputo, SH-Bupati Gorontalo 1981-1989
ADA urusan penting, tentunya, sampai Gubernur Sulawesi Utara
C.J. Rantung khusus terbang ke Palu, ibu kota Sulawesi Tengah,
untuk mencegat Menteri Dalam Negeri. Selasa malam pekan lalu,
setelah bertatap muka dengan pejabat dan tokoh masyarakat di
Gubernuran Siranindi, Rudini meninggalkan tuan rumah, Gubernur
Abdul Azis Lamadjido, dan tampak berbicara serius dengan
Rantung.
Dalam kunjungan kerja Menteri Rudini ke Sulawesi itu, mulai
tersingkap informasi: "ada seorang bupati dipecat". Memang
benar, Kamis pekan lalu, Rudini secara gamblang menjelaskan pada
TEMPO bahwa yang dipecat adalah Martin Liputo, S.H., Bupati
Gorontalo. "Pagi ini SK-nya saya tanda tangani untuk
dilaksanakan oleh Gubernur Sulawesi Utara. Dia kita kembalikan
kepada ABRI. Begitu saja, daripada ribut-ribut," kata Rudini.
Sehari setelah itu, SK pemberhentian untuk Martin Liputo
diserahkan oleh Rantung di Manado. Alasan utama pencopotan
Martin Liputo menyangkut aspek kepemimpinan. "Pokoknya,
kepemimpinannya tidak baiklah, begitu. Merugikan rakyat. Jadi ya
saya copot," tutur Rudini. Martin Liputo juga dianggap tak bisa
jadi teladan yang baik untuk rakyat yang dipimpinnya.
Kolonel Martin Liputo, S.H., yang menjabat Bupati Gorontalo
sejak delapan tahun lalu, memang belakangan kerap menjadi
sorotan. Bupati berusia 55 tahun itu, misalnya, dikabarkan
membeli sebidang tanah yang cukup luas di Bogomeme, kawasan
Paguyanaman. Tapi, menurut sumber TEMPO, tanah yang katanya akan
dijadikan lahan percontohan bagi petani itu dibeli atas nama
salah seorang anak Haji Martin itu.
Gosip lain adalah soal wanita. Menjelang berakhirnya masa
jabatan pertama sebagai bupati -- pada Maret 1986 -- ayah lima
anak ini santer disebut-sebut terlibat skandal asmara dengan Nou
(ratu) Gorontalo. Agaknya, isu skandal ini termasuk yang
memberatkan langkah Martin.
Apa jawab Martin? "Saya terkejut menerima SK pemberhentian itu.
Tapi, sebagai prajurit Saptamargais, saya menerima dan taat pada
atasan," ujar Martin Liputo kepada Phill M. Sulu dari TEMPO. Ia
kurang sependapat kalau kepemimpinannya dinilai gagal.
"Buktinya, Kabupaten Gorontalo masuk nominasi untuk Parasamya Purnakarya Nugraha," kata alumnus UGM Yogya itu.
Satu per satu tuduhan ditangkis Martin. Ia mengatakan, isu
skandal asmara dengan Nou Gorontalo itu ditiupkan oleh kelompok
lawannya sejak 1985 sampai menjelang berakhirnya masa jabatan
pertamanya. "Saya hadapi dengan tenang. Saya ingin
dikonfrontir," katanya. Begitu pula soal tanah di Bogomeme.
"Tanyakan saja pada BPKP," katanya singkat.
Martin Liputo, yang sebelumnya akrab dengan Gubernur C.J.
Rantung, juga menyangkal menghina agama lain. "Sebagai pembina
umat beragama, saya hanya menjalankan ketentuan menurut GBHN,"
katanya.
Sebenarnya, Martin Liputo punya jasa tak sedikit di Gorontalo.
Ia berhasil mengembangkan lokasi wisata Pulau Sarende. Pada
1986, bekas Kepala Direktorat PAU Mabes TNI AU ini mendirikan
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Limboto. Di bidang olahraga,
bekas perwira pasukan khusus TNI AU ini juga membangun lapangan
golf dan sebuah stadion sepak bola, lengkap dengan arena pacuan
kuda di Syosonegoro, Limboto. Bahkan ia pernah menjabat Ketua
Komda PSSI Sulawesi Utara.
Keberhasilan Martin juga diakui oleh Dirjen PUOD Departemen
Dalam Negeri Atar Sibero. "Buktinya, kan sekarang dia sudah pada
masa jabatan yang kedua," katanya pada I Nengah Wedja dari TEMPO
di bandara Ngurah Rai, Bali. "Kalau dulu hebat, belum tentu
berikutnya juga sama. Maka, harus hati-hati terus ...," ujar
Atar Sibero lagi. Ini warning bagi semua bupati, agar mawas diri
dan tak cuma bisa dansa-dansi?
Toriq Hadad (Surabaya) dan Tri Budianto Soekarno (Jakarta)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
yang benar , Bapak CJ Rantung takut kalah dalam pencalonan Gubernur Sulut Bapak Marthin Liputo , SH yang didukung oleh Bapak BJ Habibie dan Bapak Soeharto , sehingga Bapak Martin Liputo digulingkan
BalasHapus